Jenis atau Macam-macam dan Fungsi Surat Kuasa

Melanjutkan artikel sebelumnya, kali ini saya akan membahas tentang Jenis-jenis atau macam-macam surat kuasa berikut dengan fungsinya. Ada setidaknya 5 surat kuasa yang saya pahami selama ini. Masing-masing memiliki karakteristik sendiri-sendiri karena tujuan pembuatannya dan fungsinya pun berbeda-beda. Ada yang bisa atau yang memang dibuat untuk digunakan di dalam proses persidangan dan ada juga yang tidak bisa digunakan dalam proses persidangan sama sekali.

Jenis-jenis dan Fungsi Surat Kuasa

  1. Kuasa Umum
    Pasal 1796 KUH Perdata menyatakan bahwa:

    Pemberian kuasa yang dirumuskan secara umum hanya meliputi tindakan-tindakan yang menyangkut pengurusan.
    Untuk memindahtangankan barang atau meletakkan hipotek di atasnya, untuk membuat suatu perdamaian, ataupun melakukan tindakan lain yang hanya dapat dilakukan oleh seorang pemilik, diperlukan suatu pemberian kuasa dengan kata-kata yang tegas.

    Pasal tersebut di atas memberikan batasan secara tegas tentang cakupan kuasa umum yang hanya bisa digunakan terbatas hanya pada tindakan-tindakan yang menyangkut pengurusan saja. Sedangkan untuk memindahtangankan barang, membuat suatu perdamaian, dan lain-lain diperlukan kata-kata yang tegas. Oleh karena itu, surat kuasa umum ini tidak dapat digunakan untuk mewakili pemberi kuasa di depan persidangan.

  2. Kuasa Khusus
    Pasal 1975 KUH Perdata menyatakan bahwa:

    Pemberian kuasa dapat dilakukan secara khusus, yaitu hanya mengenai satu kepentingan tertentu atau lebih, atau secara umum, yaitu meliputi segala kepentingan pemberi kuasa.

    Dalam surat kuasa khusus harus dijelaskan secara spesifik mengenai hal-hal apa saja yang bisa dilakukan oleh si penerima kuasa. Jadi kekhususannya terletak pada disebutkannya kepentingan apa saja yang bisa diwakili dalam surat kuasa khusus tersebut. Misalnya, surat kuasa khusus pengacara dalam mewakili kliennya di persidangan, maka dalam surat khususnya tersebut harus disebutkan secara rinci, seperti membuat dan mengajukan gugatan, replik, mengajukan alat bukti, membuat kesimpulan, dan seterusnya.
    Atau contoh lainnya dalam penandatanganan akta jual beli tanah, maka harus disebut secara khusus bahwa penerima kuasa akan mewakili pemberi kuasa dalam menandatangani akta jual beli.

  3. Kuasa Istimewa
    Kuasa istimewa adalah kuasa yang diberikan oleh pemberi kuasa untuk melakukan tindakan tertentu yang sangat penting yang tidak bisa dikuasakan dengan menggunakan kuasa umum ataupun kuasa khusus. Jadi sebetulnya, tindakan tertentu tersebut hanya bisa dilakukan oleh pemberi kuasa sendiri, akan tetapi karena situasi yang mendesak, maka bisa dikuasakan dengan menggunakan kuasa istimewa. Contoh tindakan yang tidak dapat diwakilkan baik menggunakan kuasa khusus apalagi kuasa umum adalah sumpah penentu dan mediasi, tapi menjadi bisa diwakilkan kepada orang lain jika menggunakan kuasa istimewa ini.
  4. Kuasa Perantara
    Dasar hukumnya adalah pasal 1792 KUH Perdata dan pasal 62 KUHD. Kuasa ini adalah legalitas khusus bagi para agen perdagangan atau makelar atau broker atau perwakilan dagang. Dalam hal ini pemberi kuasa memberi perintah kepada pihak kedua yang berkapasitas sebagai agen untuk melakukan perbuatan hukum dengan pihak ketiga.
  5. Kuasa Insidentil
    Yaitu pemberian kuasa kepada seseorang yang masih memiliki hubungan keluarga sedarah atau semenda (sampai derajat ketiga) dengan principal untuk beracara di Pengadilan setelah mendapatkan izin dari ketua Pengadilan tempat penerima kuasa akan beracara. Penerima kuasa harus bukan pengacara, tidak mendapatkan bayaran dari pemberi kuasa dan tidak menerima kuasa insidetil dalam waktu satu tahun ke belakang.

Semoga bermanfaat. Saya akan merasa senang sekali jika Anda bersedia berkomentar untuk memberikan masukkan dan berdiskusi di bawah ini. Terima kasih.

About Rahmat Raharjo

Hakim di PA Lewoleba, hobi tenis and ngeblog dengan tujuan untuk sharing dan belajar.
Tagged , , . Bookmark the permalink.